THE PERFECT MAN (1) – Catatan Tentang Dr. KH. Idham Chalid

Dua kali saya ke kediaman KH. Idham Chalid di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Yang pertama pada pertengahan 2008, kedua saat wafatnya pada 2010.

Saat sowan pertama, beliau dalam kondisi berbaring, lumpuh total, dan hanya terpejam. Menurut Nyai Idham, kondisi tersebut sudah dialami selama 8 tahun. Sangat memprihatinkan.

Saat itu, alhamdulillah saya bisa mendekat. Saya cium tangan beliau penuh ta’dzim. Inilah orang besar yang sangat dikagumi alm. Bapak saya, sampai-sampai namanya pun diambil untuk saya.

Sambil menggenggam tangannya, dengan lirih saya bisikkan: “Kiai, saya Idham Cholid dari Wonosobo. Bapak saya sangat mengagumi kiai. Mohon ridla-nya, nama kiai diambil untuk saya. Tabarukan kiai. Mohon ikhlasnya.”

Di luar dugaan, beliau merespon. Tangannya bergerak-gerak pelan. Hanya itu. Tapi saya sudah sangat tersanjung. Setidaknya beliau masih mendengar apa yang saya sampaikan. Saya yakin, kesadaran beliau masih sangat utuh, meski secara fisik sudah lumpuh. Kebahagiaan saya tak terkira karena pada akhirnya bisa bertemu langsung dengan ulama besar, politisi hebat, orang yang sempurna, meski kindisinya sudah tak berdaya.

Peran Politik NU

Sejak kecil ketokohan KH. Idham Chalid sering saya dengar dari bapak. Diceritakan bahwa beliau Kiai hebat, luar biasa. Pemimpin NU yang berkali-kali menjadi pejabat, menduduki jabatan penting dalam pemerintahan.

Saya mengenal beliau ketika saya mulai kenal media. Saat itu, 1983, menjelang muktamar NU di Situbondo dan setelahnya, liputan media tentang beliau luar biasa. Istilah sekarang viral dan menjadi trending topik di laman politik khususnya. Maklum, beliau adalah Ketua Umum PBNU terlama sepanjang sejarah, 28 tahun, yang kemudian digantikan
oleh KH. Abdurrahman Wahid di Muktamar Situbondo pada 1984.

Baca Juga  Nasehat Gus Baha Untuk Para Jomblo

Beliau menjadi tokoh penting dibalik peran politik NU di akhir dekade Orde Lama dan 15 tahun selama Orde Baru.

Kiprahnya di panggung politik sejak NU tergabung dalam Masyumi, beliau menjadi Legislator termuda di daerah asalnya, Kalsel. Kemudian setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952 beliau hijrah ke Jakarta dan aktif berperan di NU.

Sejak 1956 beliau memimpin NU, setahun setelah Partai ini mengikuti Pemilu untuk pertama kalinya sejak keluar dari Masyumi. Di bawah kepemimpinannya NU tampil sebagai partai besar yang disegani. Pada Pemilu 1971 misalnya Partai NU mengalahkan PNI dengan perolehan 58 kursi untuk DPRRI. NU sebagai pemenang kedua setelah Golkar yang memperoleh 236 kursi.

Kekuatan politik NU tentu tak bisa dianggap remeh. Presiden Suharto sangat paham itu. Kekuatan kiai yang dikebiri selama berada di Masyumi, telah bangkit dan tak bisa disembunyikan lagi. Salah satu faktor penting disini adalah kepemimpinan KH. Idham Chalid yang komunikatif, egaliter dan bisa menempatkan posisi ulama secara tepat.

Sekali lagi, Suharto sangat paham itu. Dia belum puas meski Golkar telah menjadi kekuatan mayoritas. NU dianggap sebagai ancaman Orde Baru. Dari sinilah, restrukturisasi politik dijalankan. Skenario fusi partai dilakukan (selengkapnya, https://tirto.id/sejarah-pemilu-1977-taktik-fusi-parpol-ala-soeharto-orde-baru-dl3V). Singkatnya, Pemilu 1971 menjadi Pemilu terakhir karena setelah itu NU tergabung dalam PPP. Jelas sekali, Orde Baru telah cukup berhasil “melumpuhkan” kekuatan politik NU.

Disaat itulah, sebagai pemimpin NU, KH. Idham Chalid harus bisa menjaga keseimbangan agar peran politik NU tetap diperhitungkan. (bersambung)

Kalisuren, 11 Juli 2020

Idham Cholid
Ketua Umum Jamaah Yasin Nusantara

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close