Sejarah Pesantren Tertua Di Wonosobo

MAYODO.ID-Siapa sih yang tidak tau Pondok Pesantren Al Asy’ariyah yang Berada di desa Kalibeber Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Desa Kalibeber yang hampir 100 % penduduknya beragama Islam secara geografis berada di atas ketinggian + 860 m dari permukaan laut (DPL) dan terletak pada Bujur Timur dan Lintang Selatan 12.15.07.02 dimana suhu rata-rata berkisar antara 200 C sampai 250 C, pada bulan Juli dan Agustus biasanya suhu tidak menetap bahkan bisa di bawah 200 C. Pondok Pesantren Al Asy’ariyah didirikan oleh KH. Muntaha bin Nida Muhammad pada tahun (1832-1860).. Namun apakah kalian tahu bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al Asy’ariyah hingga sampai sebesar ini?

Yuk kita simak Gaes,

Melalui tipu daya Belanda pada 1830 menangkap Pangeran Diponegoro, dan melucuti senjata para pengawalnya. Diantara prajurit pengawalnya yang sempat meloloskan diri adalah R. Hadiwijaya dengan nama samaran KH. Muntaha bin Nida Muhammad. Pada tahun 1832, beliau – yang juga dikenal dengan KH Muntaha tiba di Kalibeber, Kecamatan Kalibeber, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.

Waktu itu Kalibeber merupakan ibu kota Kawedanan Garung- diterima oleh Mbah Glondong Jogomenggolo. Atas petunjuk Mbah Glondong, KH. Muntaha mendirikan sebuah masjid dan padepokan santri di dusun Karangan Ngebrak, Kecamatan Kalibeber di pinggir sungai Prupuk, yang sekarang dijadikan makam keluarga Kyai. Padepokan ini kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) al Asy’ariyah.

Ilmu pokok yang diajarkan adalah baca tulis Al-Quran, Tauhid dan Fiqih. Dengan penuh ketekunan, keuletan dan kesabaran, secara berangsur-angsur masyaraat Kalibeber dan sekitarnya memeluk agama Islam. Dengan kesadaran sendiri mereka meninggalkan adat-istiadat buruknya seperti berjudi, manyabung ayam, minum minuman keras dan lainnya.

Daerah selatan pesantren, semula dihuni Etnis China akhirnya ditinggalkan penghuninya. Nama Gang Pecinan sampai sekarang masih dilestarikan. KH Muntaha wafat tahun 1860 setelah 26 tahun memimpin pesantren. Ia digantikan putranya KH Abdurrochim bin KH Muntaha (1860-1916). Pada periode kedua, KH Abdurrochim yang merupakan ahli tasawuf dan memiliki keahliannya menulis Al-Quran.Saat pergi berhaji, selama perjalanan berhasil menulis Al-Quran sempurna 30 juz.

Baca Juga  Wisata Religi dan Bertawassul di Makam KH.R. Muntaha Al Hafidz Wonosobo

Periode ketiga, kepemimpinan pesantren diteruskan putranya yang bernama KH Asy’ari bin KH Abdurrochim (1917-1949).Kala kepemimpinannya, Indonesia sedang gigih-gigihnya menentang kembali penjajahan Belanda. Kala itu pesantren mengalami masa surut, karena sebagian santrinya ikut dalam geriliya melawan penjajah.Belanda pernah menyerang wilayah Wonosobo, bahkan Al-Qur’an tulisan tangan Al-Maghfurllah KH Abdurrochim ikut dibakar. Saat periode keempat, kepemimpinan dilanjutkan putranya KH Muntaha Al-Hafidz bin KH Asy’ari yang biasa dipanggil Mbah Muntaha, seorang ulama legendaries dan kharismatik. Ia dijuluki sang Maestro Al-Qur’an.

Di bawah kepemimpinannya Al-Asy’ariyyah menemui kemajuan sangat pesat, baik mengenai jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikannya. Satu karya sangat fenomenalnya, yakni Al-Quran Akbar (Al-Qur’an terbesar di Dunia) yang kini disimpan di bait Al-Quran TMII. Selain peran KH Muntaha Al-Hafidz, kemajuan pondok pesantren ini juga tak lepas dari peran adiknya, KH Mustahal Asy’ari bin KH. Asy’ari.

Seiring berjalannya waktu, santri pun mulai bertambah sehingga wadah pengajaran ini berkembang menjadi PPTQ al Asy’ariyah seperti sekarang dan mencetak ribuan santri dari berbagai penjuru indonesia. Bagaimana, apa kalian tertarik mondok dipesantren tertua di Wonosobo ini gaess?.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close