SEJARAH KABUPATEN WONOSOBO

A. Ki Ageng Wonosobo Keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit

Kabupaten Wonosobo sesungguhnya merupakan penerus kejayaan kraton Majapahit. Dalam lintasan sejarah kerajaan Majapahit adalah negeri yang besar, makmur, aman, damai, sejahtera lahir batin. Rajanya bernama Prabu Brawijaya V 1448 – 1478. Beliau adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta.
Prabu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandan Kuning. Beliau putri Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Ketua panitia pernikahan dijabat oleh Raden Depok. Beliau pejabat kraton Pajajaran yang punya koneksi luas.

Sedangkan walimatul ursy atau nasihat perkawinan dilakukan oleh Syekh Aling Achmad Magribi. Beliau ulama kerajaan Pajajaran yang masih punya hubungan geneologi dengan Husain bin Ali bin Abu Thalib. Dari pernikahan ini lahir Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Sejak kecil Raden Bondan Kejawan diasuh oleh Syekh Mutahar Al Mukmin. Setelah dewasa Raden Bondan Kejawan dijodohkan dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub.
Pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih disertai dengan upacara midodareni. Ki Ageng Tarub memasang bleketepe, tuwuhan, cengkir gadhing, pari saagem dan tebu wulung. Ini asal mula adat pernikahan Jawa. Mas kawin atau mahar diberikan dalam bentuk pusaka gong Kyai Sekar Delima dan Tombak Kyai Plered.

Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih ini lahir tiga putra, yaitu Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendawa dan Nyi Ageng Ngerang.
Sebetulnya Ki Ageng Tarub merupakan anak dari Syekh Magribi. Ibunya adalah Dewi Rasawulan, putri Bupati Wilwatikta Tuban. Dengan demikian Ki Ageng Wonosobo itu cucu langsung Ki Ageng Tarub. Leluhur Ki Ageng Wonosobo termasuk pembesar kadipaten Tuban. Ki Ageng Tarub, dari jalur bapak, Ki Ageng Wonosobo cucu langsung raja Majapahit, Sinuwun Prabu Brawijaya V. Jadi Ki Ageng Wonosobo masih trahing kusuma rembese madu.
Keturunan Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng menjadi orang penting dalam sejarah Jawa.

Tiga bersaudara selalu berperan dalam perjuangan kraton Demak Bintara, Pajang, dan Mataram. Keturunan Ki Ageng Wonosobo yang menonjol ditunjukkan oleh Ki Ageng Juru Martani. Keturunan Ki Ageng Getas Pendawa diperankan oleh Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Ki Ageng Pemanahan. Sedangkan Ki Ageng Ngerang diwakili oleh Ki Ageng Penjawi. Tokoh-tokoh itu namanya harum dalam silsilah Kerajaan Jawa.
Nama kecil Ki Ageng Wonosobo adalah Syekh Ngabdullah Al Akbar. Beliau tekun belajar, rajin tirakat. Suka menjalankan laku prihatin, lara lapa tapa brata.

Pada malam Senin Wage selalu tapa kungkum dan tapa ngeli di Sungai Lusi Purwodadi. Kadang-kadang anelasak wanawasa, tumurun ing jurang terbis di gunung Kendheng Pati. Sekali tempo bertapa di Gunung Danaraja pada tahun 1485. Berkat lelakunya itu Ki Ageng Wonosobo atau Syekh Ngabdullah Al Akbar menjadi priyagung yang sakti mandraguna. Ditombak mendat, jinara menter.

Tibalah saatnya Ki Ageng Wonosobo menikah dengan Dyah Plobowangi, putri Demang Selomerto. Kediaman Dyah Plobowangi ini terkenal dengan sebutan Plobangan Selomerto. Alangkah bahagianya Ki Demang Selomerto. Putri tunggalnya disunting oleh priyagung yang punya derajat keturunan tinggi. Bobot bibit bebet sungguh mengagumkan. Nama Tarub, Tuban dan Majapahit tersohor di tingkat internasional. Ki Demang Selomerto merasa mendapat durian runtuh, kebanjiran segara madu, kejugrugan gunun sari.

Demang Selomerto merasa sudah lanjut usia. Pada tahun 1487 menyerahkan harta benda kepada Dyah Plobowangi. Perkebunan teh disepanjang lereng gunung Dieng berhasil memuaskan. Perkebunan tembakau di kaki gunung Sundara Sumbing menghasilkan untung yang besar. Peternakan sapi di sekitar aliran kali Serayu berkembang baik.

Warisan Demang Selomerto ini otomatis diberikan oleh Dyah Plobowangi. Aneka ragam perusahaan ini menyerap tenaga kerja. Masyarakat turut menikmati. Ditambah lagi sifat ramah Ki Ageng Wonosobo. Beliau terkenal sebagai pendidik. Padepokan yang berdiri di daerah Plobangan Selomerto didatangi siswa dari segala pelosok Nusantara. Genap tiga tahun lamanya peguron Plobangan Selomerto telah berhasil mendirikan gedung dan fasilitas belajar mengajar yang memadai.

Baca Juga  Asal Usul Terjadinya Penindasan Terhadap Perempuan

Atas usul Ki Demang Selomerto, daerah yang selama ini dipimpin dinamakan Wonosobo. Berarti darma bakti dan perjuangan Ki Ageng Wonosobo sangat didukung oleh mertua dan istrinya. Kademangan Wonosobo makin maju. Suatu saat Kanjeng Sultan Syah Alam Patah Jimbun Sirullah I atau Raden Patah, raja Demak Bintara hadir di Kademangan Wonosobo. Melihat kemajuan dan kemakmuran, raja Demak Bintara ini amat senang.

Dengan resmi Kademangan Wonosobo pada tanggal 25 Mei 1489 ditetapkan menjadi Kabupaten Wonosobo.
Begitulah berdirinya kabupaten Wonosobo yang mendapat dukungan luas. Seluruh rakyat bergembira ria. Keluarga besar Demang Selomerto siap sedia untuk memberi bantuan harta benda. Dyah Plobowangi menjadi istri yang setia.

Status Kabupaten Wonosobo waktu itu masih dalam pembinaan kerajaan Demak Bintara. Wajar sekali pendirian daerah pemekaran harus diampu oleh kekuasaan induk. Posisi itu tetap berlangsung setelah bergesernya kekuasaan dari Demak, Pajang, Mataram dan Kraton Surakarta Hadiningrat.

B. Perjuangan Luhur Keturunan Ki Ageng Wonosobo pada jaman Demak, Pajang dan Mataram

Sumbangan Ki Ageng Wonosobo kepada Kerajaan Demak Bintara besar sekali. Setiap kali pisowanan agung di Pendopo kraton Demak Bintara, Ki Ageng Wonosobo kebagian membawa teh. Upacara Grebeg Maulud, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar memerlukan makanan dan minuman dalam jumlah besar. Konsumsi minuman menjadi jatah Wonosobo. Lauk pauk dan bumbu menjadi tugas Demang Lasem Rembang. Beras ketan dipasok oleh Bupati Pengging. Semangat Wonosobo ini mendapat pujian dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Guru Suci ing Tanah Jawi.

Ki Ageng Wonosobo termasuk murid kinasih Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu.
Pembangunan Masjid Agung Demak Bintara tahun 1492 juga mendapat sumbangan dari Ki Ageng Wonosobo. Lewat keuangan sang istri, Dyah Plobowangi, beliau membeli kayu jati dari Cepu. Juru ukir dari Jepara didatangkan. Marmer dari Tulungagung pun diborong. Semua dengan kualitas terbaik. Biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Dyah Plobowangi.

Tentu saja Sultan Demak Bintara menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Ageng Wonosobo tak segan-segan menyumbang lembaga pendidikan yang dikelola Dewan Wali Sanga. Beliau adalah Sunan Ampel, Sunan Giri I, Sunan Murya, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Mojoagung dan Sunan Kalijaga.
Dengan selamat sentosa Ki Ageng Wonosobo dan Dyah Plobowangi berhasil membina rumah tangga. Tuhan memberi anugerah putra putri yang unggul.

Masyarakat menyebut Syekh Ngabdullah Al Akbar dengan gelar Ki Ageng Wonosobo I. Beliau memerintah tahun 1489 – 1529. Kemudian dilanjutkan Ki Ageng Wonosobo II₩ tahun 1529 – 1540. Lalu Ki Ageng Wonosobo III tahun 1540 – 1582. Ki Ageng Wonosobo III memiliki putra putri hasil pernikahan dengan Rara Janten. Keempat putranya yaitu Nyai Ageng Lawih, Nyai Ageng Manggar, Ki Ageng Juru Martani dan Nyai Ageng Sabinah.
Putri sulungnya Nyai Ageng Lawih menikah dengan Arya Pangiri, Bupati Glagahwangi. Nyai Ageng Manggar menikah dengan Ki Ageng Giring. Juru Martani menjadi penasihat utama kerajaan Mataram. Nyi Ageng Sabinah menikah dengan Ki Ageng Pemanahan.

Pada periode ini keturunan Ki Ageng Wonosobo mendapat kesempatan emas dalam pentas kesejarahan. Masing-masing berperan aktif dan memberi sumbangan tenaga, pikiran, harta, benda.
Nyai Ageng Lawih yang menjadi istri Bupati Glagahwangi memiliki usaha pelayaran. Beliau wanita karier yang kaya raya. Perusahaannya bermarkas di Banyumanik Semarang. Perdagangan ekspor impor mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Beliau memberi biaya belajar kepada pemuda Wonosobo. Mereka dikirim ke Kasultanan Samudra Pasai untuk belajar ilmu maritim tahun 1562. Setelah lulus mendapat pekerjaan di pelabuhan Tanjung Emas.

Baca Juga  Sejarah Kemenangan NU di Pemilu 1955: Pemilik Mobil Mencari Supir

Berbeda dengan kakaknya, Nyi Ageng Manggar menjadi istri Ki Ageng Giring. Beliau memiliki usaha agrobis di sepanjang Kali Serayu. Perusahaannya khusus dalam bidang budi daya kelapa. Mulai dari bumbu masak, minyak goreng dan kerajinan sapu lidi serta kesed. Nyi Ageng Manggar orang terpandang. Tetapi Ki Ageng Giring lebih tertarik pada dunia spiritual. Beliau kerap tapa ngidang dan tapa ngrame. Maka Ki+ Ageng Giring termasuk jalma limpat seprapat tamat, waskitha ngerti sakdurunge winarah.

Berkat usahanya itu Ki Ageng Pemanahan mendapat wahyu keprabon dengan minum degan klapa ijo. Nak tumanak run tumurun menjadi raja tanah Jawa.
Ki Ageng Juru Martani berjasa pada kerajaan Pajang. Peperangan dengan Arya Penangsang harus dengan strategi yang jitu. Atas usul Ki Ageng Juru Martani, Danang Sutawijaya unggul dalam pertempuran.

Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir berkenan memberi dua pusaka sakti, yaitu gong Kyai Sekar Delima dan Tombak Kyai Plered. Gong Sekar Delima bila ditabuh akan menyebabkan seseorang menjadi sehat, kuat dan bersemangat. Tombak Kyai Plered ampuhnya bukan main. Ujung tombak Kyai Plered adalah zat kimia beracun. Terkena tusukan tombak Kyai Plered sulit disembuhkan. Maklum dua pusaka itu warisan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit.

Putra Wonosobo yang diwakili Ki Juru Martani menunjukkan orang pintar dan berwibawa.
Kini Rara Sabinah yang diambil istri Ki Ageng Pemanahan. Beliau adalah wanita yang gentur tapane mateng semedine. Dari rahim guwa garbanya itu lahir Danang Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar. Kelak menjadi raja Mataram pertama, Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panetep Panatagama. Dengan begitu kerajaan Mataram didirikan oleh keturunan langsung Ki Ageng Wonosobo. Rara Sabinah menjadi ketua protokol istana kerajaan Pajang. Beliau yang mengatur jadwal agenda kerja Sultan Hadiwijaya. Hubungan Rara Sabinah dengan Raja Pajang begitu dekat. Kedekatan ini berguna untuk membimbing Panembahan Senopati saat memimpin Mataram tahun 1584 – 1601.

Peran keturunan Wonosobo di kerajaan Mataram pasca Panembahan Senopati tetap dominan Prabu Hadi Hanyokrowati memerintah tahun 1601 – 1613. Putra Ki Ageng Juru Martani berperan sebagai Perdana Menteri Mataram. Namanya Patih Mandaraka. Demi menduduki jabatan penting, Patih Mandaraka pernah belajar di kota Tamasek Singapura tahun 1605. Beliau belajar sistem maritim, manajemen pelayaran, diplomasi internasional, dan kesusasteraan Melayu. Studi banding ini dilakukan untuk mengetahui kultur Melayu yang berjumlah besar di kawasan Nusantara. Kegiatan ini diikuti oleh para generasi muda di Wonosobo. Mereka utusan dari Kabupaten Wonosobo yang direlokasi ketat. Tenaga trampil, dilatih dan dididik di kancah internasional.

Perjuangan leluhur kabupaten Wonosobo pantas menjadi tepa palupi bagi generasi muda. Kawidadan, kawibawan, kamulyan lan karaharjan diwariskan turun temurun. Kejayaan, kemakmuran dan keemasan Kabupaten Wonosobo terus dilakukan oleh para pemimpin dan rakyat. Itulah konsep manunggaling kawula Gusti.

C. Daftar Bupati Wonosobo yang Memberi Nilai Keutamaan

  1. Tumenggung Adipati Wonosobo I 1489 – 1529. Dilantik pada jaman kerajaan Demak Bintara. Rajanya Raden Patah.
  2. Tumenggung Adipati Wonosobo II 1529 – 1540. Dilantik pada ) kerajaan Demak Bintara. Rajanya Adipati Unus.
  3. Tumenggung Adipati Wonosobo III 1540 – 1582. Dilantik pada jaman kerajaan Demak Bintara. Rajanya Sultan Trenggono.
  4. Tumenggung Adipati Wonosobo IV 1582 – 1507. Dilantik pada jaman kerajaan Pajang. Rajanya Sultan Hadiwijaya.
  5. Tumenggung Adipati Monconagoro I 1607 – 1647. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Prabu Hadi Hanyakwati.
  6. Tumenggung Adipati Monconagoro II 1647 – 1670. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Tegal Arum.
  7. Tumenggung Adipati Monconagoro III 1670 – 1699. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Tegal Arum.
  8. Tumenggung Adipati Monconagoro IV 1699 – 1712. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Amral.
  9. Tumenggung Adipati Monconagoro V 1712 – 1728. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Paku Buwana I.
  10. Tumenggung Adipati Wonokusumo I 1728 – 1750. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Paku Buwana II.
  11. Tumenggung Adipati Wonokusumo II 1750 – 1790. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana III.
  12. Tumenggung Adipati Wonokusumo III 1790 – 1821. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IV.
  13. Tumenggung Adipati Wonokusumo IV 1821 – 1825. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana V.
  14. Tumenggung Adipati Setjonagoro 1825 – 1832. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VI.
  15. Tumenggung Adipati R Mangunkusumo 1832 – 1857. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VII.
  16. Tumenggung Adipati R Kertonegoro 1857 – 1863. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VII.
  17. Tumenggung Adipati Tjokroadisoerjo 1863 – 1869. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IX.
  18. Tumenggung Adipati Suryohadikusuma 1889 – 1898. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IX.
  19. Tumenggung Adipati R Suryohadinagoro 1898 – 1919. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana X.
  20. Tumenggung Adipati RA Sosrohadiprojo 1919 –1944. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana X.
  21. Tumenggung Adipati Singgih Hadipuro 1944 – 1946. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana XI. Patihnya RMAA Sosrodiningrat yang menjadi anggota BPUPKI.
  22. R Soemindro 1946 – 1950. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  23. R Kadri 1950 – 1954. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  24. R Omar Soerjokoesoemo 1954 – 1955. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  25. R Sangidi Hadisoetirto 1955 – 1957. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  26. Rapingoen Wimbohadi Sedjono 1957 – 1959. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  27. R Wibowo Helly 1960 – 1967. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  28. Drs. Darodjat AWS 1967 – 1974. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno.
  29. R Mardjaban 1974 – 1975. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto.
  30. Drs. Soekamto 1975 – 1985. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto.
  31. Drs. Poedjihardjo 1985 – 1990. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto.
  32. Drs. H Soemadi 1990 – 1995. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto.
  33. Drs. H Margono 1995 – 2000. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto.
  34. Drs. Trimawan Nugrohadi 2000 – 2005.
    Dilantik pada jaman Presiden Abudurrahman Wahid.
  35. Drs. H. Abdul Khaliq Arif 2005 – 2015. Dilantik jaman Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.
  36. Eko Purnomo SE MM menjabat sejak tahun 2016. Dilantik jaman Presiden Joko Widodo.
Baca Juga  INDONESIA, MUTIARA PEMIKAT DUNIA!

Kabupaten Wonosobo cukup membanggakan. Rakyatnya ramah tamah, murah hati dan guyub rukun. Gunung Sundoro Gunung Sumbing memberi pengayoman wilayah bagian timur. Dua gunung kembar ini ibarat Nakula Sadewa. Bagian utara berhias Gunung Dieng atau Hadining Hyang, merupakan lambang anugerah alam. Daerah Wonosobo selatan kinclong kinclong banyune waduk Wadas Lintang. Dari Wonosobo berhulu kali Serayu.

Anjajah desa milangkori
Kala mangsane pariwisata.
Hla endahe bumi nusantara.
Ingkang adi luhung
Alas lan gunung gunung.

Oleh Dr Purwadi M.Hum
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close