Revolusi Indonesia Belum Selesai (Revolusi Bagi Perempuan)

MAYODO.ID – Revolusi adalah suatu gerakan perubahan yang menyertakan semua massa tanpa memandang kelas apalagi perbedaan sex, terus didorong dan ditingkatkan Kekuatanya,tidak bisa dipungkiri selama ini suatu perjuangan selalu memandang perbedaan gender.Perempuan selalu dianggap kaum kedua dimana kemampuannya selalu di bawah laki-laki. Mungkin banyak yang bilang begitu?padahal kalau kita membuka wawasan lebih luas gambaran mengenai kelemahan perempuan hanyalah apologi belaka yang diungkapkan oleh mereka.di mana sebenarnya tidak menyadari tentang gender atau emansipasi.

Kenyataan sehari-hari bisa  dijadikan sebagai bukti bahwa sistem telah memarginalkan perempuan  baik dibidang sosial, politik, hukum, agama dan masih banyak lagi. Jika wanita hanya diizinkan berdiri dibalik pria maka sia-sialah perjuangan R. A. Kartini dan menangislah ibu pertiwi meratapi nasib kaumnya. Di Indonesia wanita mulai berbenah diri menyusun kekuatan untuk melakukan suatu “revolusi” bagi kaumnya. Arti revolusi ini adalah suatu perubahan melalui gerakan untuk mencapai kesetaraan posisi dalam menentukan arah kemerdekaan kehendak dan pemikiran. Munculnya LSM perempuan dan tokoh perempuan hebat, menciptakan sosok kepahlawanan baru yang mendorong perempuan Indonesia untuk bangkit bersama kaum laki-laki dalam memperjuangkan kebenaran.

Pada hakikatnya aktivis perempuan dalam garis ideologi Marxis berusaha  memperjalinkan aspek masalah perempuan dan revolusi nasional Indonesia juga masalah perempuan dan revolusi sosialis. Soekarno sendiri terlepas dari ambiguitasnya terhadap emansipasi perempuan dan poligami telah mewacanakan dalam Sarinah tentang tahapan tertinggi gerakan perempuan pasca-revolusi nasional, yaitu mematangkan revolusi sosial (1963).

Umi Sardjon, Ketua Gerwani pun mengatakan bahwa setelah revolusi nasional, imperialisme masih bercokol di Indonesia dan masalah perempuan masih belum teremansipasi dari paham lama poligami dan perkawinan muda dan sebagai tenaga kerja masih tereksploitasi,artinya Revolusi Indonesia bagi perempuan sesungguhnya belum selesai.

Baca Juga  JURUS JITU MANDIRI TINGKATKAN UMUNITAS

Selain itu ada banyak perempuan yang tidak berjuang di garis massa, melainkan khusus pada isu perempuan secara parlementer seperti Maria Ulfah (sarjana hukum perempuan pertama yang lulus dari Universitas Leiden, Belanda) menjadi pengajar di Perguruan Rakyat yang dicap Belanda “Sekolah Merah” dan memperjuangkan reformasi aturan akad nikah dan cerai bagi perempuan (Rasid 1982). Begitu pula Sujatin Kartowijono, penggagas Kongres Perempuan I dan pendiri Perwari mengatakan telah berjuang sejak di Jong Java pada 1922. Ia berupaya untuk mematahkan tatakrama menyembah Sultan Yogya sebagai protes ketidakadilan kraton terhadap perempuan. Hingga Indonesia merdeka, Sujatin tetap setia di jalur organisasi perempuan dan memperjuangkan hak perempuan dalam perkawinan (dalam Lasmidjah Hadi 1982).

Menurut Nani Soewondo yang mengikuti kongres-kongres perempuan sejak 1928 sampai Indonesia merdeka, bahwa apa yang diharapkan perempuan untuk bebas Dengan mempelajari pandangan dan aksi-aksi perempuan mengenai Revolusi Indonesia itu dapat direkonstruksi sebuah pengertian bahwa revolusi bukan hanya perubahan dan pergantian sistem ekonomi-politik dari kolonial/imperialis ke pribumi, juga bukan sekadar memudarnya otoritas kraton terhadap rakyat jelata, maupun perubahan relasi produksi, melainkan lebih kompleks lagi. Revolusi juga bukan sekadar kategori revolusi nasional, revolusi sosial dan revolusi demokratis, melainkan ada yang masih tersembunyi sebagai pengetahuan revolusi yaitu perubahan relasi gender dalam perkawinan. Artinya revolusi menurut perempuan adalah perombakan total atas otoritas laki-laki dalam mengucapkan janji perkawinan dan perceraian, perjodohan dan perkawinan muda serta poligami.

Justru revolusi dalam perkawinan ini yang belum tercapai hingga saat ini, khususnya berkaitan dengan perkawinan muda dan poligami. Bahkan dewasa ini isu poligami, perjodohan dan perkawinan muda kembali digaungkan oleh ‘imperialisme agama’ untuk melawan gagasan “revolusi yang belum selesai” dari gerakan perempuan di Indonesia. Maka Revolusi Indonesia bagi perempuan sesungguhnya belum selesai dari praktik perkawinan muda, hak cerai dari laki-laki dan poligami belum mencapai hasil. Revolusi itu pun belum mampu mengubah masalah perempuan dalam perkawinan. lalu harus bagaimana agar revolusi dalam perkawinan tercapai ? opsi seperti apa yang akan kita tawarkan untuk menyikapi hal seperti ini.  baik, cukup sekian mungkin itu hanya statement pribadi saya, semoga pada tulisan berikutnya kita bisa sharing dan mengupas lebih dalam tentang revolusi dan makna revolusi bagi perempuan. trimakasih ..

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close