Puasa dan Kepentingan

MAYODO.ID – Ada tiga tingkat kepentingan yang biasanya dibebankan oleh manusia atas kegiatan puasa. Pertama, kepentingan duniawi. Kedua, kepentingan ukhrawi. Dan ketiga, kepentingan ilahiyah murni.

Kepentingan pertama adalah memposisikan Puasa sebagai metode, cara, atau persyaratan untuk memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi. Jika engkau manusia Jawa tradisional, sejak dari kakek nenekmu engkau mengenal konsep prihatin. Kata orang tua kita, kalau ingin bahagia nanti, ingin sukses, ingin jaya, ingin kaya dan berpangkat, terlebih dulu engkau harus mau prihatin. Prihatin itu maksudnya sengaja memasuki kesusahan atau penderitaan tertentu. Salah satu bentuk penderitaan yang paling populer adalah puasa. Bukan hanya untuk mendapatkan berbagai jenis sukses, tetapi juga untuk mendapatkan ilmu atau ngelmu, agar dukdheng dan sektimandraguna, engkau dianjurkan berpuasa dulu. Ada puasa mutih, ada puasa ngebleng, ada puasa bisu, ada yang puasa normal seperti puasa Senin-Kamis, ada puasa 40 hari 40 malam, atau bahkan puasa Ramadhan juga kita letakkan dalam fungsi demikian.

Dengan demikian, orang menjalankan puasa Ramadhan sebenarnya juga bisa berbeda-beda konsep dan tujuannya. Puasa Ramadhan itu puasa religius-teologis; yang segala konsep dan sangkan-paran-nya ditentukan oleh Allah SWT. Tapi, diam-diam engkau bisa saja mengubahnya dengan mengangkat puasa Ramadhan ke dalam fungsi-fungsi duniawi yang berorientasi pada kepentingan pribadimu di dunia, sehingga puasamu bernama puasa kultural.

Ini tak berbeda ketika engkau mendatangi kiai atau ulama, engkau ber-tawadldlu’ kepadanya, engkau memaklumi keimanan shalatnya, dan engkau mencium tangannya. Tapi, bisa saja diam-diam yang engkau bawa adalah konsep menghadap dukun. Kiai itu sebenarnya engkau perlakukan diam-diam sebagai dukun. Engkau menunduk karena engkau ingin naik pangkat. Dan, engkau mencium tangannya karena siapa tahu kariermu bisa meningkat.

Maka ada kualitas dan orientasi kepentingan yang kedua, yakni kepentingan ukhrawi. Engkau berpuasa tidak demi kejayaan duniawimu, tidak demi kemapanan ekonomimu, tidak demi sepak terjang politikmu, tetapi demi mendapatkan tempat yang mulia di surga, demi mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya.

Tingkat kedua ini tetap mengorientasikan perbuatan puasa pada muara kepentingan pribadi; tapi sudah lumayan karena dunia sudah engkau atasi. Yang engkau rindukan adalah sukses ukhrawi. Kalau engkau berada di tingkat mutu puasa yang kedua ini, alhamdulillah, karena engkau sudah memberikan harga yang lebih mahal kepada perbuatan puasa. Engkau sudah tidak meremehkan kesucian dan ketinggian ibadah puasa untuk hal-hal yang remeh-temeh di dunia.

Baca Juga  Mengatur Pola Tidur saat Bulan Puasa di Tengah Wabah Covid-19

Namun, kalau engkau memang Muslim yang berpasrah diri sepenuh-penuhnya kepada Allah dan merindukan kualitas takwa dan tauhid yang tertinggi, pamrih kepentingan ukhrawi pun engkau atasi. Memang Allah tidak melarangmu untuk mempamrihi kehormatan di akhirat, dan bahkan Allah menyuruhmu untuk meminta apa pun yang baik kepadaNya. Tetapi kualitas tauhid dan kepasrahan yang total akan membawamu untuk membawa pamrih kepentingan apa pun kecuali penyatuan kepada Allah SWT.

Inilah jenis kepentingan yang ketiga, kepentingan ilahiyah murni. Sedemikian percayanya engkau kepada Allah, sehingga engkau pasrah sepasrah-pasrahnya. Engkau membebaskan diri dari segala cita-cita dan kerinduan kepada dunia maupun surga. Engkau tiba pada suatu tingkat kesadaran bahwa engkau menjumpai dirimu, bahwa duniamu dan akhiratmu tidaklah penting-sebab yang sungguh-sungguh penting hanyalah Allah SWT.

Di tingkat ini termuat makna AI-Ikhlas. Katakan bahwa Allah itu satu, bahwa Allah itu satu-satunya dan sekaligus segala-galanya, yang di hadapan-Nya engkau lebur dan lenyap. Dan itulah yang dimaksud dengan tauhid penyatuan diri dengan-Nya, peleburan, pelarutan, dan peniadaan diri, sehingga yang ada hanya Allah. Engkau, dirimu itu, tidak penting, kejayaanmu tidak penting, apalagi sekadar pangkat dan hartamu di dunia-karena hanya Allah satu-satunya yang penting bagimu.

Mungkinkah engkau dan aku belajar dan berlatih mendaki tingkat kesadaran dan kejiwaan semacam itu? Setidak-tidaknya, selama Ramadhan saja, bersediakah engkau merevolusikan hidupmu, jiwamu, mentalmu, akal dan perasaanmu, untuk sekadar mencicipi barang sejenak nikmatnya kesadaran tinggi itu? Sesudah tiba hari raya, engkau kupersilakan melorot kembali menjadi manusia remeh-temeh lagi: menomorsatukan kepentingan pribadi keduniaanmu, mengutamakan kepentingan golongan atau kemapanan kepemerintahanmu sendiri-asalkan engkau ingat bahwa aku tidak bisa turut menanggung maqam keremehan di pundakku. Juga seandainya sikap keremehan itu mengundang kadar dosa, aku tidak bisa turut menyangga di dunia maupun akhirat.

Baca Juga  JURUS JITU MANDIRI TINGKATKAN UMUNITAS

Cobalah engkau ber-i’tikaf malam-malam. Engkau hitung hubungan-hubungan global maupun parsial, kaitan-kaitan makro maupun mikro, sentuhan-sentuhan permanen maupun temporer-antara kegiatan puasa dan riuh rendah kepentingan pribadi atau golongan yang bersemayam di dalam hati dan otak kepalamu.

Cobalah engkau menukik ke suatu fakta aktual, misalnya tentang PDI yang ”absen” atau ”dipaksa absen” di Jawa Timur untuk Pemilu 1997. Apakah manusia-manusia, meskipun ia sudah sarjana, sudah jenderal, sudah gubernur, sudah segala-galanya di pentas dunia, memiliki kesanggupan untuk memaknai puasa dalam peta keterlibatan sosial atau politik mereka?

Apakah pilar dan substansi nilai yang menjadi sumber kejadian yang menyangkut PDI Jatim yang selama berbulan-bulan itu engkau saksikan sedemikian silang sengkarut dan stuck dan hang? Apakah sesudah memasuki hakikat Ramadhan, engkau yang terlibat di dalamnya mampu menghikmahkan puasa padanya? Mampukah seorang pemimpin dan ”Bapak” memerdekakan diri dari mulai kepentingan kekuasaan yang notabene bersifat golongan?

Mampukah tokoh yang semestinya bersifat mengatasi kepentingan-kepentingan subjektif diri dan golongannya sendiri serta kepentingan subjektif di sekitarnya mempuasai itu semua demi kepentingan yang lebih tinggi? Yakni kepentingan kolektif, kepentingan bangsa secara menyeluruh, kepentingan kerakyatan dan kemanusiaan, dan kalau perlu kepentingan nilai ilahiyah yang seharusnya memang ia junjung tinggi-sesuai dengan janji dan gayanya sehari-hari?

Di bidang politik, engkau berhak menolong golongan mana pun, asalkan pertolonganmu itu berorientasi pada kepentingan seluruh bangsa. Engkau boleh membantu pihak mana pun asalkan bantuan itu engkau efektifkan untuk kepentingan seluruh rakyat. Engkau bahkan dianjurkan untuk menolong dan membantu pihak mana pun asalkan pertolongan dan bantuanmu bisa engkau temukan relevansi idealistiknya dengan nilai universal keillahian.

Engkau wajib memberikan bantuan tidak saja terbatas pada parpol yang mana. Bahkan, kepada orang lain agama pun engkau wajib menolong pada konteks-konteks tertentu. Kalau ada orang kelaparan, jangan tanya apa agamanya, langsung saja kasih dia makanan. Kalau ada orang kesepian, jangan tanya apa partainya, langsung saja sapa dia dan sayangi dia, agar engkau mendapatkan pintu untuk bersamanya meningkatkan diri ke kepentingan yang lebih tinggi, yaitu tauhid illahiyah.

Baca Juga  Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Saat Virus Corona Jadi Pandemi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close