Nasehat Gus Baha Untuk Para Jomblo

“Orang mencintai perempuan nggak kesampaian, mau zina nggak berani, ditahan nggak sanggup, dan yakin ditolak, itu kalau mati, matinya syahid”.

Ungkapan bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan memang berlaku sepanjang masa. Sejak zaman Nabi Adam, Adam Malik, hingga Adam Jordan, urusan jodoh merupakan misteri ilahi. Perihal cinta dan perjodohan, setiap orang punya beragam cerita dengan segala tetek-bengeknya.

Ada yang berhasil mendapatkan jodohnya, ada pula yang belum mendapatkan pasangannya. Mereka yang disebut terakhir ini kerap disebut dengan istilah jomblo.

Saya tidak tahu sejak kapan istilah jomblo ini muncul. Yang jelas, jomblo merujuk pada mereka yang sudah matang secara usia, sudah waktunya menikah, tetapi belum mendapatkan pendamping hidup. Penyebabnya beragam, mulai dari hal-hal yang bersifat alamiah, ilmiah, hingga ilahiah.

Sayangnya, banyak yang tidak mau tahu mengapa orang menjomblo, sehingga mereka yang masih jomblo kerap menjadi sasaran tembak untuk diledek, dijadikan bahan guyonan, hingga dibully. Saya dulu juga sering meledek teman-teman yang masih jomblo, tetapi alhamdulillah sekarang kebiasaan itu sudah tidak lagi saya hentikan, loh?

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata: Rasulullah SAW bersabda pada kami:

“Wahai para pemuda (jomblo), barangsiapa di antara kamu telah mampu kawin, maka kawinlah, karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (HR. Muttafaqun Alaih)

Keistimewaan Jomblo

Meski jomblo kerap diledek, akan tetapi jomblo sendiri memiliki keistimewaan khusus. Mufassir muda KH. Baha’uddin Nursalim atau biasa dipanggil Gus Baha’ memberi tafsiran mengenai jomblo. Bahwa mereka yang berstatus jomblo sejatinya sedang berjihad, yaitu jihad mendapatkan pasangan hidup.

Sementara mencari pasangan hidup (menikah) adalah perintah agama. Artinya, jika seseorang meninggal dalam keadaan jomblo, maka matinya termasuk kategori syahid. Gus Baha’ memberikan narasi tentang jomblo yang dimaksud.

Baca Juga  Amal Kantong Bocor

“Orang mencintai perempuan nggak kesampaian, mau zina nggak berani, ditahan nggak sanggup, dan yakin ditolak, itu kalau mati, matinya syahid”.

Ada banyak alasan mengapa muncul cerita kasih tak sampai. Ya itu tadi, mulai dari alasan alamiah, ilmiah, hingga ilahiah. Bisa jadi karena faktor alamiah seperti ciri-ciri fisik, nasab, maupun asal daerah. Ada juga alasan ilmiah antara lain tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status sosial, atau alasan ilahiah karena memang sudah takdir atau bahkan campur tangan dukun, haha.

Mau berzina juga takut dosa, malu sama Tuhan jika melakukan maksiat. Sementara di luar sana, banyak orang yang secara status belum menikah, tetapi sejatinya sudah tidak perjaka atau perawan karena berzina. Naudzubillah… Nah, dalam kasus seperti ini, berpuasa dapat menjadi solusi. Walapun toh, puasa atau ibadahnya para jomblo pahalanya lebih sedikit dari puasanya orang yang sudah menikah.

Yakin ditolak juga menjadi alasan mengapa orang masih menjomblo. Ini adalah tipe-tipe orang minder, pesimistis sekaligus sangat naif. Tetapi tidak bisa disalahkan juga. Bisa jadi karena memang sudah dikalkulasi sedemikian rupa secara matematis, sehingga peluang untuk mendapatkan gadis pujaan semakin menipis. Dari pada tidak sanggup merasakan pahitnya ditolak, lebih baik “aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo”.

Jomblo Bukan Musibah

Jika direnungkan secara mendalam, sejatinya menjadi jomblo bukanlah sebuah musibah. Banyak para ulama besar dan legendaris yang sampai akhir hidupnya dalam keadaan jomblo. Imam At Thabary (224-310 H) hafal Al Qur’an usia 7 tahun, menulis hadits sejak usia 9 tahun, mengembara ke berbagai negara untuk mengumpulkan dan menulis ratusan ribu hadits, mengarang berbagai kitab tafsir, fiqih dan hadits.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 Menghantam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Konon, beliau istiqamah menulis 40 lembar kitab setiap harinya selama 40 tahun. Bahkan saat beliau meninggal, ribuan orang masih berziarah ke makamnya selama berbulan-bulan.

Imam Nawawi (631-676 H), pengarang salah satu kitab legendaris Riyadhus Shalihin ini juga menjomblo selama hidupnya. Hari-harinya diisi untuk belajar, berdakwah, dan menulis kitab. Beliau menghindari makanan yang enak-enak karena khawatir akan mudah mengantuk, sehingga melalaikannya untuk beribadah dan menulis kitab-kitab tafsir dan hadits.

Ibnu Taimiyah (661-728 H) juga menjomblo hingga tutup usia. Beliau merupakan pemikir yang kritis. Ahli nahwu, balaghah, hadits, dan tafsir. Mengarang lebih dari 500 kitab. Hampir separuh hidupnya dihabiskan keluar masuk penjara karena sering mengkritik pemerintah. Meski dipenjara, beliau tetap produktif menulis.

Di Tuban kita mengenang Sunan Bonang. Beliau yang nama aslinya Mulana Makhdum Ibrahim ini juga diketahui tidak menikah. Menurut versi cerita dari sejarawan nusantara Romo Kyai Agus Sunyoto, salah satu sebab Sunan Bonang tidak menikah karena ada bagian tubuhnya yang terluka akibat melawan para pertapa dan begawan sakti yang menguasai tanah Jawa. Sunan Bonang seumur hidupnya digunakan untuk berdakwah, menyebarkan Islam secara ramah.

Islam menyebar dengan perlahan dan pasti melalui pendekatan budaya, berhasil menjadikan masyarakat beradab dan berdayaguna. Melalui sentuhan tangan dingin beliau, keindahan dan kelembutan Islam bisa kita rasakan hingga sekarang.

Merujuk pada beberapa kisah di atas, sebenarnya menjadi jomblo itu tidak masalah, apalagi sebuah musibah. Selama hidupnya diisi untuk menebar manfaat dan kebaikan pada orang lain, maka status jomblo tidak lagi diingat orang. Beberapa teman dan senior saya juga banyak yang masih menjomblo. Katanya, saya jadi jomblo ndak masalah, lha wong hidup saya juga sudah sakinah mawaddah warahmah. Nah, loh. 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close