Keluarga Terpecah Bukan Akhir Segalanya( Jeritan Hati Broken Home – Rise or Die)

hallo.. 

namaku fanya, aku ingin berbagi kisah hidupku. aku adalah seorang anak biasa , yang hanya tau tentang kehidupan rumit, dan pahitnya hidup. menjadi seorang anak broken home bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap anak dalam suatu keluarga.

Perceraian, bagi kedua pasangan yang telah menikah tetapi memiliki konflik  terkadang  adalah sebuah solusi yang mereka pikir  akan menyelesaikan  permasalahan mereka, namun mereka secara tidak sadar menganggap itu hal yang terbaik, dan secara tidak  sengaja menjadikan anak sebagai korban atas keputusan mereka. terkadang penyematan menjadi anak broken home membuat hidup mereka hancur. baik, aku harap untuk seluruh anak broken home diluar sana yang membaca sedikit tulisan ini, bisa membantu  mereka untuk kembali menciptakan semangat dan berjuang untuk menata hidupnya 🙂

mempunyai keluarga yang tidak utuh sama sekali, itu bukan kemauanku dan tidak pernah terbesit dalam hidupku. banyak rasa yang sulit untuk ku ungkapkan. aku terlahir dari keluarga  yang biasa dan tinggal bersama neneku ( ibu angkat dari mamaku), dia yang telah membesarkanku dari kecil . 

kemana kedua orang tuaku? 

mereka ada, tapi sayangnya mereka seperti orang asing bagiku, mamaku yang meninggalkanku ketika aku masih berumur 17 bulan (lebih dari kejam menurutku) tanpa kabar dan menghilang begitu saj, sampai hari inipun aku tak pernah mengenali atau melihat bahkan membayangkan wajah ibuku seperti apa entah dalam bentuk foto atau yang lain, ya,, aku dan seluruh keluargaku kehilangan komunikasi dengan mamaku. dari pihak keluarga juga udah mencoba mencari informasi tapi nihil nhasilnya. pun dengan ayahku yang memutuskan untuk menikah lagi dan tinggal dirumahnya bersama keluarga barunya, bahkan kewajiban atas aku tidak pernah sama sekali difikirkan, kita jarang ketemu hanya menyandang sttus ayah dan anak selebihnya kita adalah orang asing.  jadi segala  kebutuhan hidupku dibiayai penuh oleh nenek ku, yah aku masih sangat bersyukur atas hal ini.

aku paling suka menyendiri dikamar tanpa ada seorangpun yang mengganggu, walaupun kadang kamarku berantakan seperti kapal pecah tapi aku tetap betah. kebiasaan itu berlanjut sampai aku lulus SMA dan spasca kelulusan ku hal ini sangat membuatku tersiksa.

Baca Juga  THE PERFECT MAN (1) - Catatan Tentang Dr. KH. Idham Chalid

apa yang aku lakukan dikamar ? mendengarkan musik dan merenungi takdirku sendiri, terkadanga ku juga ingin marah tapi aku tidak tau harus marah dengan siapa? :'(Aku merenung memikirkan kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan, yang tak pernah aku rasakan sampai kapanpun. Aku kesal, aku marah, aku sedih, kenapa aku tak seperti mereka??? Mereka yang merasakan kebahagiaan di dalam rumah, merasakan bagaimana rasanya tinggal bersama kedua orang tua, kakak dan adik dalam satu rumah. Aku ingin merasakan kebahagiaan itu, walaupun hanya satu hari.

waktu aku kecil aku tidak pernah tau siapa orang tuaku, yang aku tau nenek yang membesarkanku sampai hari ini adalh orang tuaku, sampai akhirnya Tuhan menunjukan dengan caranya sendiri. aku menemukan tumpukan surat dari mamaku yang kubaca 10 th setelah surat itu diterima, tepatnya aku masih duduk di bangku Smp. kalian bisa membayangkan betapa hancurnya hidupku waktu itu, yang sisanya masih aku rasakan sampai hari ini.Dan sekarang aku masih belum merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan yang aku inginkan dari kecil. Tapi aku selalu tersenyum pada mereka. Mereka yang mengenal ku, seolah tak pernah ada luka dalam diriku, seolah tak ada kesedihan yang aku simpan, tapi sebenarnya aku sedih sangat dan sangat sedih.

Terkadang aku merasa sebatang kara, seorang diri, padahal aku punya orang tua, punya saudara, tapi aku tak merasakannya. Malah aku tak akrab dengan mereka. Dan terkadang aku merasa iri jika aku melihat keluarga yang begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya, dan seketika muncul di benak ku, kapan aku merasakannya???:'( bahkan ketika pertanyaan dan rasa rindu terhadap orang tuaku yang sedemikian hebatnay aku bingung harus melampiaskan dan berlari kemana, sedang hal itu ynag membuatku berkali kali frustasi dan jatuh. 

Baca Juga  Ketika Raga Orangtua Tak di Sebuah Rumah yang Sama (Berjanjilah Menjadi Hebat)

ma,, pa,,aku butuh perhatian kalian, butuh kasih sayang kalian. tapi kenapa kalian sebegitu tidak pedulinya denganku. bahakn menengok atau sekedar menanyakan kabar tak sudi. apa kalian tak pernah sedikit membayangkan betapa sulitnya aku melewati hari hari tanpa kalian, melawan rasa yang sebegitu sakit dan melukai ini. tidak hanya soal materi yang tidak aku dapat dari kalian.

aku ingin mendengar segala bentuk omelan, bentakan , sebagai bentuk perhatian kalian. bahkan ketika kalian memanggiku. 

ma ,, paa,, apa kalian tidak pernah bahagia atas kehadiranku kedunia ini. samapai kalian membuat dan menciptakan keluarga yang sebegitu hancur, dan membuatku berdarah melalui jalan hidup sendiri. baiklah,, pada akhirnya aku hanya bisa menangis dan melanjutkan hidup tanpa seorangpun yang mengerti. walaupun aku sudah lelah dan ingin menumpahkan beban dipundak. 

ma, pa.. meski begitu namamu tetap akan kuingat sepanjang hidupku dan kuperkenalkan kepada anak anaku kelak sisanya akan aku buang dan tidak akan pernah kuceritakan kepada mereka. 

terimakasih telah mengajarkan pahit manisnya sebuah perjalanan hidup, tangis yang tidak akan pernah terbayar, luka yang tidak akan pernah sembuh. dari  suara anakmu yang tidak akan pernah kalian tahu. 

aku tetap menyayangimu,, karena kalian adlah sakit sekaligus obat ketika aku ingin mengingatmu. 

 

 
 
 
 
 
 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close