Explore Wonosobo, Perjalanan Dua Orang Srikandi

MAYODO.ID-Temen-temen semua kenalin namaku Agnes, entah jam berapapun temen-temen buka dan baca tulisan ini tapi aku mau ucapin selamat sore ditemani gerimis dan angin membelai rambutku yang tidak terlalu panjang ini.

Kalian semua mungkin sudah banyak yang tahu tentang sebuah tempat yang disebut negeri atas awan, yup…. tepat sekali… sebuah tempat bernama dieng dan berada di sebuah kota bernama wonosobo. Cerita ini adalah tentang keinginanku pergi ketempat itu sejak awal sekali aku masuk kuliah di Jogja sampai aku masuk semester 7 dan mengerjakan tugas akhirku.

Aku adalah mahasiswi keperawatan disebuah universitas swasta di Yogyakarta, lahir dikota Kediri serta saat ini umurku 20 tahun mendekati 21. Sepanjang aku kuliah aku termasuk orang yang cukup tomboy begitu kata teman-temanku menyebutku, hampir semua waktu luangku aku habiskan bersama alam bebas, bahkan hampir seluruh gunung berapi ditanah jawa pernah aku takhlukkan bersama temen-temen mapala di kampusku.

Namun ada satu tempat yang sampai selesai semester 6 dan mulai mengerjakan skripsi aku belum pernah datangi dan itu adalah dieng. Tidak punya pengalaman datang kedieng adalah satu hal yang sangat membuat aku kecewa terlebih lagi jika nanti aku lulus dan tak ada kesempatan untuk berkunjung kesana bersama kawan kawan keceku di mapala.

Saat itu tepatnya 2 minggu yang lalu hari rabu sekitar pukul tujuh Lily (teman di mapala) menelponku.

Agnes: halo…. paan lily tumben kamu nelpon ​​
Lily : iya nes, borring nie dah lama kita gak hiking, kamu sabtu-minggu besok ada acara nggak?
Agnes  : yaelah kamu li, kirain ada apa, kalau sabtu minggu mah biasa gak ada selooww aja tuh hari, emang kenapa?
Lily  : Ke Dieng yuk…
Agnes   : Serius kamu li?
Lily : iya nes serius kamu bisa kan?
Agnes : Tapi Tabungan aku lagi gak sehat ini li, takutnya ntar aku gak cukup uang diperjalanan.
Lily : tenang aja nes, ongkos kesana gak mahal kok, kita pakai motor sambil backpackeran dijalan kayak biasanya kan seru tuh.
Agnes : Boleh boleh… jam berapa berangkat
Lily : besok aku kabari berangkt dan apa yg perlu kita bawa ya
Agnes : oke dahh

Hari itu sabtu, tepat dua hari setelah kami janji bertemu untuk berangkat kedieng tiba, semua perlengkapanpun kami periksa satu persatu, mulai tenda kapasitras 4 orang yang selalu kebawa berikut perlengkapan keamanan yang dipakai untuk perjalanan di alam bebas pun tidak luput aku cek satu per satu, penerangan untuk malam hari sampai dengan makanan untuk cukup dua orang selama 2 hari pun saya rasa sudah lengkap dan kami rasa kami siap berpetualang hari itu.

Baca Juga  8 Tempat Wisata Seru Di Wonosobo

Perjalanan panjang dimulai setelah akan melaksanakan sholat dzuhur, menggunakan sebuah speda motor matic berwarna merah kesayanganku, kami susuri perjalanan dari Yogyakarta menuju perkemahan kami di komplek wisata dieng. Sebagai orang yang memang sangat ingin sampai kedieng sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan berbagai macam petualangan seru yang bakal kami lalui, tentang padang sayuran lapang dengan petani yang sedang asik bercocok tanam, keindahan sunrise yang konong paling indah se asia tenggara, telaga yang berwarna warni sampai dengan bangunan megah candi-candi yang syarat akan peninggalan masa lalu bagiku bakalan jadi pengalaman seru yang bakal jadi cerita indah untuk anak dan cucuku nanti (menghayal).

Hampir 2 jam kami berjalan ternyata kami sudah memasuki perbatasan magelang dan wonosobo, pikirku ini tak lama lagi bakalan ku dapatkan pengalaman yang selama ini aku inginkan, sampai akhirnya karena sudah memasuki waktu ashar kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sekaligus untuk sholah ashar di sebuah masjid yang ada di dekat lapangan kecamatan sapuran. Sekilas masjid tersebut hampir sama dengan masjid pada umumnya, namun jika aku perhatikan kumpulan bangunan yang berkumpul ditempat itu sungguh sangat menggambarkan tentang kebersamaan, masjid yang depannya langsung berhadapan dengan sebuah madrasah tsanawiyah maarif, serta ada bangunan lain milik pemerintah disitu sudah cukup membuat saya kagum dimana semuanya dapat berbagi dan berjalan bersama tanpa adanya dinding-dinding yang membatasi kepentingan berdiri kokohnya sebuah bangunan yang berjajar dengan megahnya ditengah ramainya pedagang dan berbagai kalangan masyarakat yang lalu lalang disekitar lapangan sapuran.

Setelah sholat ashar ternyata perut juga memberikan kode bahwa sudah waktunya kami mdemberikan asupan energi kembali untuk badan yang tengah dalam perjalanan, tanpa basa basi kamipun memilih untuk sekedar makan di sebuah angkringan dengan tutup tenda terpal warna biru di depan pintu gerbang masjid tempat kami sholat sebelumnya.

Baca Juga  Gereja Ayam, Kawasan Wisata Dengan Spirit Keimanan

Sedikit basa-basi sama pedagang yang ternyata masih seumuran kami, seorang anak muda yang cukup tampan menurutku memiliki penampilan bersih dan juga gaya Bahasa yang santai, sedikit medok dan juga cukup humoris. Kami pun sedikit bertanya sama pedagang itu:

Lily    : mas….., sampai dieng masih berapa lama lagi ya dari sini ​​
Pedagang : masih jauh mbak mungkin 1,5 jam lagi mbak jika belum pernah kesana, emangnya mbak dari mana?
Agnes  : Dari jogja mas lagi pingin jalan jalan eksplore wonosobo katanya kota ini banyak sekali tempat tempat seru yang cocok buat kantong mahasiswa kaya kita.
Pedagang  : baru pertama kali kesini ya?
Lilly    : iya mas…. Masih sambal nyari jalan ini
Pedagang : deket-deket sini juga ada loo mbak tempat wisata baru gak jauh siapa tahu mbaknya mau sekalian, paling sekitar 15 menit dari sini
Lilly : Tempat apa itu mas?
Pedagang : Wisata Alam Mbak, namanya Gunung Sarru tempatnya hampir kayak yang didatengin sama Obama dijogja itu loo apa amnamanya….
Agnes : ohh pengger ya mas…
Pedagang : iya mbak bener, kalua waktunya luang sebaiknya mampir lumayan mbak dapat tempat tambahan buat jadi pengalaman jalan jalan di sini mbak.
Lilly : wah kayaknya seru tuh, ayok kesana dulu nes
Agnes : serius ni li, oke dah kita selesaikan makan terus mampir dulu kesana,

Dapat informasi destinasi baru yang dekat dari tempat kami berada dan katanya biaya masuknya hanya lima ribu rupiah sontak jiwa traveler seakan meronta, kami percepat makan kami dan kita langsung menuju lokasi sesuai arah yang ditunjukkan sama pedagang angkringan itu.

Pemandangan Alam di sekitar Jalan menuju Kecamatan Kalibawang

Memang tak disangka sekitar satu kilometer dari lapangan kami sudah di suguhi jalan yang seru, kanan kiri berdiri tegak pohon damar yang sejuk asri dan juga nuansa jalan yang berkelok menjadi tantangan bagi kami, sampai tidak sadar sepanjang perjalanan kami sibuk menikmati keindahan alam yang terpajang di kanan dan kiri sepanjang perjalanan kami.

Baca Juga  Grand Canyon Wonosobo ada di Lubang Sewu Wadaslintang

Sambal tertawa dan mengagumi, kami juga bernyanyi nyayi sebuah lagu dari film kartun ninja hatori untuk menggambarkan serunya perjalanan ini menuju gunung sarru,

Mendaki gunung, lewati lembah sungai mengalir indah kesamudra bersama teman perjuangan….

Nyanyian kami terhenti ketika berada di tanjakan panjang dipenuhi hutan pinus, dan memanndang jauh melihat sederetan gunung yang berjajar megah terlihat dari jalan aspal yang sedikit mulai berlubang dalam hatiku berkata sungguh agung kuasa tuhan menjadikan samudra keindahan yang tiada tara, dan tak akan pernah manusia mampu menciptakannya. Dibalut dengan awan yang mulai memerah tanpa matahari akan segera terbenam menjadikan hamparan alam dan keperkasaan gunung tinggi itu semakin tampak terasa. Namun ini belum selesai perjalanan ini menjadikan kami semakin ingin segera sampai digunung sarru dengan bayangan keindahan alam disana.

___________Lanjut Part 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close