Asal Usul Terjadinya Penindasan Terhadap Perempuan

MAYODO.ID – Dalam hal ini ada banyak versi yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada perempuan karena apa. Tapi disini saya akan mencoba menjelaskan apa yang menyebabkan penindasan pada perempuan berdasarkan pengetahuan Penulis secara subyektif.

Isti Susanti (Foto Istimewa)

Lahirnya sejarah penindasan pada perempuan karena ada 5 faktor yang mempengaruhi, di antaranya adalah: individu, keluarga, masyarakat, media, dan negara.

Faktor Individu: ​​​​​​​​Dalam hal ini kebanyakan perempuan selalu menganggap bahwa dirinya memang tidak mampu bersaing dengan lawan jenisnya di berbagai bidang seperti di ranah politik dan di ranah sosial masyarakat pada umumnya. Maka dari itu dengan adanya anggapan dan rasa ketidaksanggupan perempuan dalam dirinya itu sendiri menyenbabkan perempuan selalu di anggap kaum yang lemah.​​​​​​​​

Faktor Keluarga:​​​​​ ​​​​​​​​​​Faktor yang kedua ini sering kali dianggap sebagai faktor yang sangat berpengaruh penting pada perkembangan perempuan pada umumnya. Lahirnya penindasan disini bisa di amati seperti pada awal kelahiran, ketika orangtua melihat jenis kelamin perempuan maka mereka mengatakan bahwa ini adalah calon ibuk yang akan bekerja di dapur dan di ranah domestik yang akan datang pada keluarganya. Sedangkan jika di sebuah keluarga lahirlah seorang anak laki-laki maka mereka akan mengatakan bahwa kelak dia akan menjadi pemimpin dan ahli waris yang akan mendapat warisan yang lebih banyak dibandingkan perempuan, entah itu dalam keluarganya bahkan rumahtangganya kelak. Bisa di lihat dan di simpulkan bahwa dalam hal ini secara tidak langsung ada diskriminasi terhadap posisi perempuan.

Faktor Masyarakat: Dalam faktor yang ini stigma-stigma yang di bangun di ranah masyarakat sangatlah berpengaruh pada kondisi serta keadaan perempuan sepenuhnya. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa peran perempuan tidak penting diranah publik, masyarakat menganggap anak gadis hanya berperan pentng diranah domestik dan kewajibannya hanya kasur, sumur dan dapur, padahal hal demikian bukan hanya perempuan yang mampu menyelesaikan persoalan domsestik melainkan laki-laki pun bisa. Tapi stigma-stigma yang di bangun oleh masyarakat pada umumnya sangatlah berpengaruh pada perkembangan karrier dan kebebasan perempuan. Karena kebanyakan perempuan tidak mampu menerobos stigma yang dibangun oleh masyarakat feodal dan mereka akhirnya memilih untuk menutup diri dari keterlibatannya diranah publik dan memilih untuk diam di rumah dengan segala kekangan domestiknya.

Faktor Media: Media adalah hal yang kadang bisa menjadi musuh dan kadang juga bisa dijadikan kawan oleh perempuan, sebab media sangat berpengaruh pada perempuan itu sendiri. Dikatakan bahwa media mampu menjadi musuh untuk perempuan karena segala hal yang berkaitan dengan kepentingan produk kapitalis perempuan selalu dijadikan obyeknya. Contohnya seperti iklan kosmetik dan barang-barang yang berbau rumah tangga di peruntukkan khusus untuk perempuan, dan itu menggambarkan secara tidak langsung bahwa perempuan-perempuan hanya pantas berada diranah domestik saja padahal pada kenyataannya perempuan mampu bersaing dalam segala bidang. Tapi dengan hadirnya media hari ini perempuan banyak yang tidak sadar akan dirinya di peralat secara diam-diam oleh para pemilik modal dan kebanyakan perempuan hari ini menikmati dengan baik keadannya yang sepeti itu.

Faktor Negara: Faktor yang ke-5 ini bisa dilihat sendiri bahwa bagaimana negara menghadirkan penindasan pada perempuan itu sendiri. Pemerintah mengeluarkan undang-undang berkaitan dengan ketahan keluarga itu sama halnya mereka mendeskriminasi posisi perempuan, karena dalam undang-undang itu sendiri perempuan hanya mampu menjadi ibu Rumah Tangga dan bapak sebagai Kepala Keluarga yang memiliki otoritas sepenuhnya dalam urusan keluarga. Padahal banyak perempuan di Indonesia mampu menjadi bapak sekaligus Ibu untuk keluarganya. Akan tetapi pemerintah hanya mampu melihat bagaimana kinerja laki-laki saja tidak dengan kinerja perempuan pada umumnya.

Baca Juga  SEJARAH KABUPATEN WONOSOBO

Sampai hari ini masih banyak yang menganggap bahwa perempuan hanya bisa duduk di dapur melayani keluarga masak-masak dan mengurus anak. Padahal menurut Penulis, kehadiran sosok perempuan di dunia ini adalah sebagai apa saja dan siapa saja bagi dirinya sendiri. Tapi hari ini di berbagai kajian tentang feminis masih berpacu pada penjelasan Q.S an-Nisa yang mengatakan bahwa yang pantas untuk menjadi pemimpin adalah laki-laki saja dan tidak untuk perempuan.

Tapi Penulis tidak sepakat dengan apa yang diuraikan oleh kebanyakan orang tentang perempuan karena memang mereka hanya mampu menilai berdasarkan pandangan subyektifnya saja tidak dengan konsisi obyeknya. Akan tetapi perlu kita lihat kembali dan ingat kembali bahwa bagaimana partisipasi perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sangatlah luar biasa perannya baik di ranah politik, pendidikan bahkan dalam perumusan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia perempuan ikut andil. Ada beberapa tokoh perempuan di Indonesia yang patut di contohi oleh perempuan-perempaun hari ini adalah R.A Kartini, Fatmawati, Cut Nyak Dien dan banyak perempuan-perempuan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu dalam tulisan ini. ​​​​Bahkan dalam berbagai literatur sejarah gerakan perempuan mengatakan bahwa perempuan di Indonesia ikut terlibat dalam menumbangkan rezim Soeharto pada masa Orde Baru. Tergambar dalam bukunya Frederich Engels yang Berjudul “Asal Usul Keluarga Kepemilikan Pribadi dan Negara” mengatakan bahwa keterlibatan perempuan pada tahun 1960-an sangat luar biasa dan perempuan pada saat itu menjadi orang pertama yang menemukan bagaimana cara bercocok tanam, dan saat itu juga perempuan menjadi kepala suku yang memiliki otoritas tertinggi di masyarakat. Bisa disimpulkan bahwa prempuan adalah makluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai keunikan serta kekuatan yang sebanding dengan kaum adam.

Baca Juga  Keluarga Terpecah Bukan Akhir Segalanya( Jeritan Hati Broken Home - Rise or Die)

“Kesetaraan Akan Terwujud Jika Ada Keterlibatan Antara Laki-Laki Dan Perempuan”

Penulis : Isti Susanti

​​Mahasiswa Hukum Keluarga Islam (Ahwalul Syakhsiyah)
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close